Pati Unus atau dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor, merupakan salah satu tokoh yang mempunyai andil besar dalam melawan penjajahan Portugis. Beliau memimpin armada Demak menyeberangi laut Jawa menuju Malaka pada tahun 1513. Tujuannya adalah untuk menyerang Portugis, sekaligus membendung pengaruh Portugis atas Jawa. Kegigihannya dalam melawan penjajah memang tidak diragukan lagi, di samping dunia keagamaan juga ditekuni. Dengan bukti bahwa kerajaan Demak bercorak Islam dan menjadi Kerajaan Islam pertama di Jawa. Maka peran dari raja selain sebagai penguasa juga sebagai penyebar syiar agama.

Dalam trah darah Pati Unus, Pangeran Sabrang Lor atau Sultan Demak Bintoro II, adalah putra sulung Pangeran Sabrang Lor. Dia adalah Pangeran Maulana Abdullah Haryo Pamungkas, yang nantinya bergelar Pangeran Sabrang lor-II. Karena gugur dalam ekspedisi serangan Demak pada Portugis ke pulau Besar Malaka, maka trah darah Sultan berubah menjadi trah darah kusuman atau trah pangeran. Selanjutnya trah darah Pangeran Sabrang Lor-II atau Pangeran Haryo Pamungkas berlanjut ke trah darah salah satu putranya yang bernama Pangeran Tejo Kusumo, Rupanya dia lebih mencintai jalan keagamaan, Pangeran Tejo Kusumo kemudian berguru ke Ponorogo dan bergelar Panembahan Jogorogo-1. Maka trah darah kusuman berubah menjadi trah darah panembahan, dalam istilah Jawa untuk menghormati tokoh keagamaan atau kebatinan Jawa.

Putra tertua Pangeran Tejo Kusumo atau Panembahan Jogorogo, bernama Raden Haryo Wongso, lebih dikenal sebagai Ki Ageng Ampuhan dari Wod Waru di sekitar Prambanan . Karena kesaktiannya , maka trah darah panembahan berubah menjadi trah darah ki agengan. Dan berlanjut pada putra sulung Ki Ageng Ampuhan yang bernama Wiro Wongso atau dikenal sebagai Ki Ageng Karang Lo dari Tadji Prambanan.

Putra keempat Ki Ageng Ampuhan yang bernama Raden Wongso Joyo, yang mengabdikan diri ke Keraton Mataram hingga dilantik menjadi seorang Adipati di daerah Tulung, bergelar Kanjeng Hadipati Tohpati ing Tulung. Dia hidup pada masa babad sengkolo ing Mataram ketika terjadinya geger perang Trunojoyo (1675) dengan dukungan laskar Madura melakukan pemberontakan di Keraton Mataram.

Wongso Pati

Pada waktu perang Trunojoyo , salah seorang putra Raden Wongso Joyo, yang bernama Raden Wongso Pati bersama beberapa kerabat keluarga Tulung mengungsi didaerah Wukir Sewu, (pegunungan sewu di Prambanan). Mereka bersama para kerabat mengamankan diri dari pasukan Trunojoyo. Karena ayahanda Panembahan Wongso Pati, adalah salah seorang abdi dalem Keraton Mataram yang bergelar Adipati, bukan tidak mungkin pasti akan ditangkap pasukan Trunojoyo. Oleh karena itu Raden Wongso Pati berinisiatif untuk mengungsi memberikan keamanan dan menjaga para kerabatnya dari para prajurit Trunojoyo. Mereka bersembunyi di daerah pegunungan. Panembahan Wongso Pati mengembara dari tempat satu ke tempat yang lain selama pengungsian di Pegunungan Sewu.

Dalam persembuyiannya, Panembahan Wongso Pati bersama para kerabatnya melakukan babat alas di daerah Pegunungan Sewu. Mereka juga membaur dengan rakyat biasa walaupun secara sembunyi – sembunyi. Raden Wongso Pati sangat memperhatikan para kerabatnya bahkan selalu menolong rakyat yang memerlukan bantuannya. Jiwa kepemimpinan, yang notabene seorang keturunan bangsawan mengalir atas dirinya, dari leluhurnya yaitu Pati Unus Sabrang Lor. Dalam kesehariannya selalu memikirkan kepentingan pengikutnya.

Setelah perang Trunojoyo berakhir, Raden Wongso Pati tetap menetap di wilayah Pegunungan Sewu Prambanan. Dia tetap melakukan penyamaran  menjadi seorang petani, walaupun sebenarnya Raden Wongso Pati adalah seorang bangsawan, putra seorang Adipati. Dia berganti jati diri atau kelire loro (identitas ganda, penyamaran dari putra Adipati menjadi petani). Selain menjadi seorang petani, Panembahan Wongso Pati juga mengabdikan diri pada jalur keagamaan dan kebatinan Jawa.

Dia mengajarkan pada masyarakat tentang ilmu agama, mulai dari daerah pegunungan sampai ke padukuhan–padukuhan sekitar tempat tinggalnya. Di samping ilmu agama Panembahan Wongso Pati juga seorang yang suka laku prihatin (puasa dan ilmu kanuragan). Ilmu pengobatan juga dia pelajari, sehingga terkenal sampai ke daerah lain. Oleh masyarakat sekitar utamanya Prambanan dan Bayat dikenal sebagai Panembahan Wongso Pati ing Wukir, Kenaran, atau Taken Aran (mempertanyakan nama). Dia hidup sederhana dan bersahaja, dilihat dari sikap tidak pamer akan status kebangsawanannya.

Pada masanya, Panembahan Wongso Pati menjadi salah satu pelindung keturunan Kanjeng Sunan Pandan Aran di Bayat, Klaten. Karena hal tersebut merupakan amanat agung dari Sunan Kali Jogo kepada Ki Ageng Karang Lo (eyang buyut Panembahan Wongso Pati). Sebagai salah satu keturunan dari Ki Ageng Karang Lo (Wiro Wongso), Panembahan Wongso Pati juga mempunyai kewajiban untuk melaksanakan amanat tersebut.

Menjadi Nama Padukuhan

Padukuhan Klero berada di wilayah Kapanewon Prambanan. Tepatnya Padukuhan Klero, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman. Secara geografis Padukuhan Klero terletak pada kawasan Sleman timur yang erat dengan lokasi persawahan dan perbukitan di bagian timur Padukuhan Klero. Batas utara dari Padukuhan Klero adalah Padukuhan Bendungan, batas timur padukuhan ini adalah Padukuhan Sengir. Batas sebelah selatan adalah Padukuhan Gamparan, yang memiliki potensi pertanian dengan menggunakan teknologi yang maju. Batas sebelah barat berbatasan dengan Padukuhan Jurugan.

Hamparan sawah yang luas di sekeliling, dan perbukitan yang membujur dari utara ke selatan dapat dilihat bila kita menghadap ke timur dari Padukuhan Klero. Selain itu sebelah timur Padukuhan Klero ada rumah Dome. Rumah Dome dibuat untuk relokasi warga Nglepen, akibat menjadi korban bencana gempa bumi tanah ambles yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006. Pada malam hari, dapat pula dilihat keindahan sebuah tempat wisata Obelix Hills dari Padukuhan Klero.

Selain pemandangan yang cukup asri, Padukuhan Klero juga banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Di Padukuhan Klero ada potensi kebudayaan, dan disana terdapat kelompok budaya, bernama Sumberbudoyo. Juga ada kelompok perikanan yang dikelola oleh kelompok Mina Ngudi Lestari, juga potensi peternakan dengan sistem kandang kelompok, ada juga kelompok UMKM pembuatan telur asin, tempe yang masih menggunakan cara tradisional. Terdapat juga pengelolaan sampah secara terpadu menggunakan maggot yang dikelola oleh kelompok Puspa Agribima.

Nama Padukuhan Klero tidak terlepas dari seorang tokoh, yaitu Panembahan Wongso Pati, begitu kata Sri Widodo Kepala Dukuh Klero, Sumberharjo Prambanan. Kanjeng Panembahan Wongso Pati merupakan cikal bakal Padukuhan Klero, Pak Sri Widodo menuturkan. Peran besar Panembahan Wongso Pati di wilayah Prambanan, khususnya Padukuhan Klero dan sekitarnya. Dia mengembangkan kebudayaan, dan syiar agama, juga menjadi seorang tabib.

Selama proses penyamarannya sebagai seorang rakyat biasa, Panembahan Wongso Pati kemudian menetapkan untuk bermukim di perkampungan. Sebelumya dia berpindah – pindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Setelah menentukan tempat tinggalnya, Panembahan Wongso Pati mulai berkarya di tempat tersebut. Sebagai seorang tabib, Panembahan Wongso Pati mengobati orang – orang sakit. Banyak warga masyarakat sekitar tempat tinggal Panembahan Wongso Pati yang datang untuk meminta pertolongan beliau.

Pernah suatu ketika datang seorang bapak, membawa anaknya yang sedang mengalami sakit parah , bahkan dapat dikatakan anak tersebut hampir mati. Berkat keahlian Panembahan Wongso Pati dibidang pengobatan, anak tersebut bisa sehat lagi. Pada akhirnya Keluarga Panembahan Wongso Pati juga bermukim disitu. Menurut sumber lain, istri Panembahan Wongso Pati merupakan salah satu keturunan dari Wali Sanga. Namun tidak disebutkan siapa wali yang dimaksud. Keluarga Wongso Pati, merupakan keluarga yang rendah hati, sederhana, bersahaja, suka menolong sesama. Panembahan Wongso Pati wafat pada tahun 1680, beliau dimakamkan di Sasanalaya Wongso Pati Klero, Padukuhan Klero, Kalurahan Sumberharjo, kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya trah Panembahan Wongso Pati diteruskan melalui trah darah putranya, yang bernama Raden Sopati atau Tumenggung Reksopati, dia mengabdikan diri ke Kraton Mataram, dan diangkat sebagai Tumenggung Uelik sandi Mataram hingga wafatnya pada tahun 1709, di makamkan juga di Sasanalaya Panembahan Wongso Pati Klero. Cucu dari Panembahan Wongso Pati yang bernama, Raden Suto Menggolo meneruskan jejak ayahandanya mengabdikan diri pada Kraton Mataram, hingga berkedudukan sebagai Tumenggung Prajurit Sandhi Yudha Mataram. Tumenggung Suto Menggolo wafat pada tahun 1740, dan dimakamkan juga di Sasanalaya Panembahan Wongso Pati Klero.

Sampai sekarang trah keturunan Panembahan Wongso Pati masih ada, walaupun tidak berdomisili di Padukuhan Klero. Salah satunya Bpk. Budi Riyanto ( dari ibunya ) yang bertempat tinggal di Jlatren Jogotirto, Berbah.

Ada beberapa peninggalan yang disinyalir merupakan peninggalan dari Panembahan Wongso Pati, yaitu: watu gilang, omah kawak, lesung kawak. Letak watu gilang berada di sebelah barat makam Panembahan Wongso Pati, tetapi sayangnya watu gilang tersebut sudah tertutup rumpun bambu yang lebat. Sedangkan Omah Kawak dan Lesung Kawak masih berada di Padukuhan Klero tepatnya di RT 06. Dulu ada beberapa orang datang dan memercayai bahwa, Lesung Kawak dahulu dipakai menjadi sarana seseorang sesirik ‘menahan diri’ bagi seseorang mewujudkan suatu keinginan.

Ada juga benda berupa tombak Kyai Antup. Benda tersebut memiliki dua pendapat, bahwa tombak Kyai Antup merupakan hadiah dari keraton untuk Lurah Sumberharjo. Pendapat lain mengatakan bahwa, tombak Kyai Antup merupakan salah satu senjata pada zamannya Panembahan Wongso Pati. Setiap bulan Suro ada tradisi jamasan tombak Kyai Antup. Kini tombak Kyai Antup disimpan di Sanggar Sumberbudoyo Klero, Sumberharjo, Prambanan.

Di Padukuhan Klero ada tradisi sadranan, ngarak gunungan hasil bumi. Kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas rejeki dari Tuhan, juga salah satu upaya warga Padukuhan Klero mendoakan para leluhurnya. Pelaksanaan sadranan dilaksanakan setiap dua tahun sekali, sejak Kadus kedua Padukuhan Klero. Kegiatan tersebut masih dilakukan sampai sekarang.

 

Penulis : Erlina Yuliastuti